Kemenkes Deteksi 62 Kasus  Super Flu H3N2 di Indonesia, Situasi Dipastikan Terkendali

Kemenkes Deteksi 62 Kasus Super Flu H3N2 di Indonesia, Situasi Dipastikan Terkendali

JAKARTA – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi temuan 62 kasus influenza varian A(H3N2) subclade K, atau yang populer disebut sebagai 'Super Flu', sejak Agustus 2025. Meski istilah tersebut terdengar mengkhawatirkan, pemerintah menegaskan bahwa situasi kesehatan masyarakat saat ini masih berada di bawah kendali.

Sebaran Kasus di Indonesia

Berdasarkan data terbaru, persebaran kasus terbanyak terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Kalimantan. Berikut adalah rincian wilayah terdampak:

• Jawa Timur: 23 kasus (tertinggi)

• Kalimantan Selatan: 18 kasus

• Jawa Barat: 10 kasus

•Sumatera Selatan: 5 kasus

Wilayah lain: Masing-masing 1 kasus di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.

Gejala dan Tingkat Keparahan

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa berdasarkan penilaian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian subclade K ini tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang signifikan dibandingkan flu musiman biasa.

"Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan," ujar dr. Prima.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena varian ini dikenal memiliki penularan yang cepat dan gejala yang mungkin terasa lebih berat bagi sebagian orang, seperti demam tinggi dan kelelahan yang hebat.

Tren Global dan Domestik

Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) telah terpantau di 80 negara, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura sejak pertengahan 2025.

Kabar baiknya, hasil surveilans menunjukkan bahwa meskipun varian ini mendominasi, tren kasus nasional di Indonesia justru mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir. Hal serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa negara Asia lainnya.

Langkah Pencegahan

Pemerintah terus memantau perkembangan virus ini melalui sistem surveilans ketat. Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dan menggunakan masker jika merasa kurang sehat, guna menekan angka penularan lebih lanjut.